Hadi Soesilo - Calon Walikota Banjarbaru 2010
Hadi Soesilo, bagitulah nama lengkapnya. Tapi mungkin lebih banyak orang yang mengenalnya dengan nama Mang Hadi sang penyiar Radio Chandra, yang pernah begitu akrab ditelinga pendengar radio sekitar Tahun 80 an sampai tahun 2000. Mang Hadi lahir disebuah gang kecil di Kampung Gadang Banjarmasin pada tanggal 1 Desember 1955 dari pasangan HM Soemitro dan Hj Mardiyah.

Ayahanda Hadi, Bapak HM Soemitro bin Sonodriyo berasal dari Blitar, tepatnya dari desa Slemanan Kecamatan Udanawu yang berbatasan dengan Kediri. Sedangkan Ibundanya adalah Hj. Mardiyah binti Marjani berasal dari Banjarmasin tepatnya di Kampung Gedang desa Seberang Mesjid. Masa kecil Hadi sebelum sekolah adalah di Sungai Mesa.

Hadi SoesiloKetika Hadi berusia 6 tahun ia sebenarnya sudah dimasukkan ke SDN Sungai Mesa, tapi Hadi kecil yang nakal tidak mau masuk sekolah, bahkan sampai gurunya yang bernama Ibu Sabar, tiap kali lewat rumah Hadi di Sungai Mesa (Ibunda Hadi yang seorang perawat diberikan kepercayaan untuk menempati sebuah BKIA atau dulu bernama UKIDA atau Unit Kesehatan Ibu dan Anak yang sekarang menjadi Puskesmas di Jl Pahlawan Sungai Mesa Banjarmasin) selalu mampir untuk mengajak Hadi supaya sekolah, tapi Hadi selalu tidak mau.

Tahun 1961, Ayahanda Hadi, mencoba peruntungan dengan pindah ke Surabaya. Hadi pun disekolahkan di kelas 1 disebuah SD di daerah Kedung Sroko Surabaya. Ayahanda pada dasarnya adalah seorang seniman. Beliau mengerjakan pembuatan leter (Papan nama toko, Kantor dll).

Kelas 2 SD Hadi pindah lagi ke SD Pacar Keling sampai kelas 4, karena Ayahanda pindah rumah kontrakan ke daerah Pacar Kembang di Gang Sinoman. Masa kecil di Surabaya ini sangat di kenang Hadi, karena ia sangat menyukai nontong Wayang Orang “Sriwedari” di gedung Wayang Orang yang berada di areal Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya. Pak Mitro (Ayahanda Hadi) setiap minggu mengantarkan hasil kerajinan berupa hiasa dinding yang terbuat dari kawat dengan dirangkai dalam bentuk gambar binatang, petani dll, yang diantarkannya ke sebuah toko di THR, dan sesudahnya biasa Hadi merengek minto nonton Wayang Wong.

Tahun 1966, setelah kondisi ekonomi agak kacau di Surabaya pasca Pemberontakan G 30 PKI, Pak Mitro kembali boyongan ke Banjarmasin dan Hadi pindah sekolah lagi ke SDN Tri Dharma di Kampung Gedang.

Lahir dari keluarga sederhana atau mungkin bisa dikatakan serba kekurangan, mendorong Hadi untuk bekerja sejak usia dini, membantu kedua orang tuanya menghidupi keluarga besar dengan 8 saudaranya. Belum lulus SMEP Negeri 2 Banjarmasin, Hadi sudah bekerja sambilan sebagai penjaga kapal yang bersandar di pelabuhan kecil di Jl Tendean. Ia juga sudah membantu orang tuanya bikin letter papan nama toko atau Kantor atau bikin spanduk, baliho dan bahkan Hadi kecil juga terampil bikin mebulair.

Bagi Hadi nyaris tidak ada pekerjaan yang tidak bisa ia kerjakan yang penting asap dapur harus terus mengepul. Beruntung Hadi dianugerahi kemampuan olah vocal yang lumayan oke, yang mengantarkannya merintis karier sebagai penyiar di radio amatir yang mulai menjamur di tahun 70an. Hadi mulai cuap cuap di Radio Amatir Megaria di Jl Veteran Banjarmasin, Kemudian hijrah di Radio Meteor di Jl Tenden, Radio Dirgahayu di jl AES Nasution Banjarmasin. Tahun 75 begitu lulus SMEA negeri 2 kampung gadang Banjarmasin, Hadi berkelana ke Samarinda untuk melanjutkan kuliah, sayang maksud tak kesampaian akhirnya Hadi harus bekerja sebagai tukang mebel ikut pamannya yang pengusaha meubel terkenal di Samarinda sambil menyalurkan hobbynya Siaran di Radio GRJ Samarinda.

Tak kerasan pisah orang tua, awal 76 Hadi balik ke Banjarmasin dan Siaran Di Radio Chandra yang ternyata berhasil melambungkan nama Mang Hadi sebagai penyiar dengan dengan rating tertinggi di Banjarmasin melaui acara Pelangi Minggu Pagi dan Pantun Suka Hati. Salah satu kepiawaian mang Hadi adalah dalam menggaet para artis untuk wawancara di radio Chandra. Hampir semua artis top tahun 80 an perrnah diwawacarai mang Hadi, mulai dari Diana Mariana. Ateng Ishak dan Bagio, Broery, Iis Sugianto, Bagito, Warkop, Grace Simon, Teti Kadi, Elly sunarya, Bimbo, Nia Daniaty, Itang Yunas, Utha Likumahua, Cut Yanti, Gombloh, Emilia Contessa, Jamal Mirdad, Roy Marten dan seabreg artis lainnya. Bagi Hadi, satu prinsip yang dipegangnya adalah Totalitas. Bekerja dimana saja, jadi apa saja, Hadi selalu mengerahkan segenap kemapuan dan fikirannya untuk bisa menghasilkan sesuatu yang terbaik.

Hadi SoesiloSambil siaran, Hadi menyelesaikan Kuliahnya di Fakultas Ekonomi Unlam. Totalitas Hadi sebagai Mahasiswa ditunjukkan ketika ia berhasil terpilih sebagai Ketua I Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan berhasil menyabet predikat sebagai Mahasiswa Teladan Unlam Tahun 1980 yang mengantarkannya pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta untuk hadir di acara 17 Agustur di Istana Negara dan berjabat tangan dengan presiden Soeharto dan ibu Tien. Hadi bukan main gembira ketika dapat hadiah uang dari Ibu Tien sebesar Rp 75 ribu yang langsung ia gunakan untuk uang muka beli vespa seharga Rp. 400 ribu.

Kepiawaian Hadi beraorganisasi memimpin SEMA FEKON UNLAM, menarik perhatian H. Andi Amrullah SH yang pada waktu itu terpilih sebagai Ketua AMPI Kalsel. Andi lalu mengajak Hadi untuk aktip di AMPI dengan jabatan sebagai Biro Kemahasiswaan. Sebagai pengurus AMPI, Hadi mulai berkenalan dengan banyak Tokoh politik yang berkiprah di Golkar seperti Anang Adenansi, Syamsul Muarif, Nico Cumentas,SH, Armain Janit, Ismail Abdullah, Usman Dundrung, Husni Thamrin SH dan lain lain. Karier Hadi di AMPI nanmpak melenggang mulus. Dalam Musda AMPI II Tahun 85 Hadi terpilih sebagai Sekretaris AMPI mendampingi H. Syamsul Muarif yang terpilih sebagai Ketua.

Bersama Syamsul Muarif, Teguh Djuandi, Bagong, Zain Noktah Aseli SH, Navis Rozhani, dan lain lain Hadi bahu membahu memperkenalkan AMPI Kepelosok Kalsel terkadang ditemani “Pemimpin Besar Revolusi” sebutan untuk H. Anang Adenansi, Hadi bergerilya dari pintu ke pintu mensosialisasikan AMPI dan Golkar termasuk melakukan berbagai kegiatan bakti sosial, di berbagai pedesaan di HSU, HST, HSS, Tabalong, Batola, Kotabaru, Tanah Laut, dan lain lain.

Tahun 1990 dalam MUSDA AMPI III Hadi terpilih sebagai Ketua AMPI. Sebagai sayap Golkar yang pada waktu itu merupakan kekuatan politik orde baru, Hadi giat melakukan kegiatan sosialisasi dan berinteraksi dengan masyarakat melalui kegiatan bakti sosial, yang ternyata berhasil mengantarkan Hadi sebagai caleg no urut 3 dari Golkar pada pemilu 1991 dan terpilih sebagai anggota DPRD Kalsel periode 1992 – 1997.

Ketika Hadi berhasil menyelesaikan kuliahnya di FE Unlam pada tahun 1983, Hadi menjadi dosen di ASMI untuk tiga mata kuliah yakni Kesekretarisan, Pembelanjaan dan Pembiayaan. Di ASMI Hadi berteman akrab dengan Armain Janit Kepala Biro Humas Pemprop Kalsel yang juga adalah pendahulunya di AMPI. Armain menawarkan kepada Hadi untuk membuat konsep pidato Gubernur khususnya yang berkaitan masalah ekonomi. Ternyata konsep pidato yang dibikin Hadi mendapat apresiasi dari Gubernur Mistar Tjokrokusumo, yang meminta kepada Armain agar merekrut Hadi sebagai PNS di Pemda. Tawaran itu tentu disambut baik Hadi, dengan tetap mengikuti Test Pegawai Dilingkungan Pemprop, walaupun sebulan sebelumnya Hadi sudah ikut test cpns di depdikbud tapi hasilnya belum diumumkan.

Menunggu pengumuman hasil test Hadi tetap mengajar sebagai Dosen di ASMI. Dasar nasib Hadi sedang mujur. Hadi ternyata lulus di Depdikbud. Selembar SK CPNS dari Sekjen Depdikbud, ia terima. Hadi pun bekerja sebagai CPNS di Kanwil Depdikbud dan di tempatkan pada bagian pengawas SMP. Seminggu kemudian keluar penguman test cpns di pemprop dan ternyata Hadi Juga lulus, dan hebatnya lagi beberapa hari kemudian datang surat dari Kopertis Wilayah 7 di Surabaya meminta Hadi melengkapi persyaratan sebagai PNS dosen Kopertis. Hadipun mulai bimbang memilih dari tiga SK CPNS tersebut. Setelah berkonsultasi ke berbagai pihak dan mempertimbangkan jenjang kariernya di AMPI dan hobbynya sebagai penyiar radio yang terus makin populer, Hadi Akhirnya memutuskan untuk memilih berkarier di Pemprop. Dan Hadipun mengundurkan di Depdikbud dan Kopertis.

Karier Hadi sebagai PNS di Pemprop di awali di Humas sebagai Konseptor Pidato Gubernur. Hadi yang punya hobby fotography disekolahkan oleh Sekwilda Syamsir Alam ke Bandung untuk belajar Cinematography selamat 4 bulan. Pulang dari Bandung, Hadi pegang kamera dan merangkap sebagai Reporter untuk pemberitaan di TVRI. Sesuai dengan hobbynya yang senang bekerja di lapangan, pada tahun 1986 Hadi di percaya memegang jabatan sebagai Kasubag Audio Visual. Kemudian ia dipindah jadi Kasubag Publikasi pada eselon V, kemudian kariernya naik pada eselon IV di Humas sebagai Kabag Penerangan dan di mutasi sebagai Kabag Informasi pada tahun 1991. Selain Karier Sebagai PNS karier Hadi di organisasi AMPI juga terus menanjak sampai mengantarkan Hadi menjadi Anggota DPRD Kalsel tahun 1992 s.d. 1997.

Sebagai anggota termuda, Hadi langsung dipercaya sebagai Pimpinan sementara DPRD bersama H. Abdul Hadi yang merupakan anggota Tertua. Selesai sebagai Pimpinan sementara Hadi dipercaya sebagai Sekretaris Komisi B, yang membidangi Ekonomi dan Keuangan, sampai Hadi Terpilih memimpin Komisi sebagai Ketua Komisi B. Tahun 1997, ketika arus reformasi mulai bergulir, Hadi dihadapkan pada pilihan apakah akan melanjutkan karier dibidang politik sebagai Anggota DPRD atau kembali keeksekutip.

Pilihan Hadi ternyata tepat untuk kembali keeksekutip. Karena ternyata Anggota DPRD hasil pemilu 1997 hanya bertahan selama 2 tahun. Arus reformasi yang berujung pada jatuhnya pemerinthan Orde Baru memaksa diselenggarakannya pemilu pada tahun 1999. Selepas dari anggota DPRD Hadi Langsung memegang jabatan eselon III pada Direktorat Sosial Politik sebagai Kasubdit Ketertiban Umum. Tahun 1999 – 2001 Hadi dipercaya sebagai Kepala Biro Humas merangkap sebagai Juru Bicara Gubernur.

Pada masa Hadi sebagai Kepala Biro Humas ia membangun berdirinya Radio Abdi Persada dimana ia memegang jabatan sebagai Direktur. Dengan naluri dan Hobby sebagai penyiar ia sesekali masih menyempatkan diri saiaran dengan mengasuh acara Hiburan Telagama atau Tembang Lama pukul tiga hingga lima. Sayang kesibukannya yang menanjak di eksekutip, tidak memungkinkan Hadi untuk terus on air.

Bulan Juni 2001, Hadi dimutasi sebagai sebagai Wakil Kepala Dinas Perindag, eselon IIb, Kendati hanya wakil kepala, sesuai dengan tekadnya untuk selalu berkarya yang terbaik Hadi ditugaskan oleh Gubernur Syachriel Darham untuk memperjuangkan berdirinya Pusat Peltihan dan Promosi Ekspor dengan melakukan negosiasi denga JICA untuk memungkin proyek tersebut didirikan di Banjarmasin.

Usaha Hadi tidak sia sia, kepiawaiannya meyakinkan pihak JICA, akhirnya Banjarmasin ditetapkan sebagai salah satu daerah yang didirikan P3ED disamping Medan, Ujung Pandang, dan Surabaya. Semasa sebagai Wakadis perindag Hadi sempat ditugaskan untuk mengingkuti International Trade and Export Promotion Training selama 7 bulan, yakni 4 bulan di Jakarta dan 3 Bulan di Australia.

Bulan September 2003 terjadi perkembangan politik yang kurang menggembirakan di Propinsi Kalimantan Selatan. Gubernur Syachriel Darham yang terkenal suka bicara blak blakan dan ceplas ceplos diimpeach oleh DPRD Kalsel setelah mendapat desakan dari para elit politik dan arus demo yang cukup besar sampai didudukinya DPRD oleh para demonstran yang akhirnya melahirkan SK DPRD no 16 Tahun 2003 yang melengserkan Syachriel Darham. SK DPRD tersebut tentu saja tidak diakui oleh Mendagri, yang berdasarkan UU No 22 tahun 1999, DPRD tidak bisa menjatuhkan Gubernur. Dalam situasi kegentingan itu Gubernur Syachriel melakukan mutasi para pejabat dilingkungan Pemprop.

Hadi ditarik kembali kesekretariat sebagai Kepala Biro Pemerintahan (Eselon IIB). Hadi sempat kaget ditarik kembali sebagai Karo, apalagi Karo Pemerintahan, sementara Hadi memiliki latar belakang pendidikan ekonomi. Hadi sempat menanyakan langsung kepada Gubernur, apakah ada tugas khusus sehingga saya harus jadi Karo Pemerintahan? Pada normalnya saya langsung jadi Kepala Dinas Perindag mengingat selama sebagai wakil saya sudah berhasil menjalankan tugas dengan baik. Dengan bijaksana Syachril Darham menjelaskan, bahwa ditariknya Hadi dengan tugas khusus menyelesaikan masalah SK DPRD No 16/2003. Hal itu dimaklumi mengingat pada saat itu Sekjen Depdagri dipegang oleh Siti Nurbaya, yang dikenal sangat akrab dengan Hadi.

Pada waktu Hadi Sebagai ketua AMPI Kalsel, Siti Nurbaya adalah Ketua AMPI Lampung. Syachril Mengharapkan segera diterbitkan SK Mendagri yang membatalkan SK DPRD No 16 / 2003 untuk mengakhiri adanya kevacuman hubungan antara eksekutip dan legislatif di Kalsel. Tugas dari Gubernur itu ternyata berhasil dilaksanakan dengan baik oleh Hadi. Kurang dari 40 Hari, Hadi melakukan negosiasi intensip dengan Depdagri akhirnya, mendagri Hari Sabarno mengeluarkan SK Mendagri untuk membatalkan SK DPRD tersebut.

Dalam masa Hadi Sebagai Karo Pemerintahan, juga berhasil intensip melakukan negosiasi dan menjembatani aspirasi masyarakat Tanah Bumbu dan Balangan sampai akhirnya berdirinya Kabupaten Tanah Bumbu dan Kabupaten Balangan yang ditandai dengan Pelantikan kedua Bupati di Batulicin oleh Mendagri Hari Sabarno pada tanggal 8 Juni 2004. Tepat setahun Hadi sebagai Karo Pemerintahan, akhirnya Gubernur Syachril Darham mengangkatnya sebagai Kepala Dinas Perindag (Eselon IIA). Tepat ketika Hadi kembali menjadi Kepala Dinas Perindag, pihak JICA merealisasikan bantuan pembangunan P3ED, yang akhirnya diresmikan oleh Menteri Perdagangan Marie Elke Pangestu.

Dalam masa jabatan sebagai Kadis Perindag Kalsel, Hadi ditugaskan sebagai Caretaker Walikota Banjarbaru. Sebagai mantan Karo Pemerintahan, Hadi tidak mengalami kesulitan dalam menjalankan tugas sebagai Pj Walikota, walau hanya 99 hari, Hadi melakukan beberapa langkah startegis untuk mensukseskan pelaksanaan Pilkada di Banjarbaru. Melihat beberapa pelaksanaan Pilkada di daerah lain di Indonesia yang banyak berlangsung dengan ricuh dan kerusuhan, Hadi menggelindingkan program “PILKADA GEMBIRA”. Ide dasarnya adalah keinginan untuk membawa nuansa kegembiraan dalam pelaksanaan Pilkada sehingga dapat dihindari hal hal yang bernuansa kerusuhan.

Jejak Mang Hadi